SENI TUMBUH KE DALAM: REFLEKSI LINGKARAN POHON DAN KESADARAN DIRI
Kecamatan Padangan
Tim Publikasi Informasi Publik
"SENI TUMBUH KE DALAM: REFLEKSI LINGKARAN POHON DAN KESADARAN DIRI"
Seni Tumbuh ke Dalam: Refleksi Lingkaran Pohon dan Kesadaran Diri
(Oleh Dr.Novita Sari, S.STP., M.PSDM.)
Di dalam batang pohon yang tumbuh, tersimpan sebuah rahasia yang ditulis oleh waktu. Setiap tahun, seiring bergantinya musim, pohon membentuk satu lingkaran baru di dalam tubuhnya. Lingkaran cambium itu tidak bohong; ia mencatat musim kemarau yang gersang dengan garis yang rapat, dan merayakan musim hujan yang basah dengan rongga yang renggang. Makin berumur sebatang pohon, lingkaran itu makin banyak, batangnya makin besar, akarnya makin mencengkeram bumi, dan ia tumbuh menjadi sosok yang makin kokoh menantang badai.
Namun, ada ironi yang mahabesar ketika kita menghadapkan cermin waktu itu ke wajah manusia.
Tidak seperti pohon yang makin tua makin perkasa, pertambahan usia manusia justru membawa konsekuensi yang berkebalikan. Fisik yang perlahan merapuh. Langkah kaki yang dulu ringkas kini mulai melambat. Ketajaman berpikir yang dulu secepat kilat, adakalanya melonggar dimakan waktu. Kita tidak bertambah perkasa secara lahiriah; kita justru sedang berjalan menuju titik balik kelemahan.
Kesadaran akan keterbatasan biologis ini melempar saya pada satu-satunya pegangan yang tersisa: "Jalani bagianmu dengan kesungguhan, biarkan Tuhan menyelesaikan apa yang tidak bisa dikendalikan."
Ketika usia mental kita ikut bertumbuh bersama rapuhnya fisik, kita tiba pada sebuah titik pencerahan yang meneduhkan. Kita akhirnya paham bahwa yang membuat kita lelah selama ini bukanlah beratnya beban hidup, melainkan ego dan keinginan 'ambis' untuk mengendalikan segalanya - layaknya seorang Avatar.
Padahal, berserah adalah kunci kedamaian yang hakiki. Berpasrah bukan berarti kalah atau diam berpangku tangan. Menyerah pada takdir adalah tentang keberanian untuk berjuang secara ugal-ugalan dan sehormat-hormatnya di ranah yang bisa kita usahakan, lalu ikhlas menerima apa pun ketetapan yang sudah digariskan di ujung jalan. Inilah wujud kemenangan yang sejati.
Satu hal yang pasti: kita tidak pernah, dan tidak akan pernah, memiliki kendali atas reaksi, penilaian, perkataan, dan perbuatan orang lain kepada kita. Selamanya, kita akan selalu kalah dalam permainan melelahkan menyenangkan semua orang. Namun, di tengah bisingnya dunia yang acak dan tidak bisa disetir ini, kita selalu punya kuasa penuh atas diri sendiri: untuk tetap kokoh, menjaga hati, dan memilih bagaimana kita merespons kehidupan.
Di hari ini, sebuah kesadaran lain ikut menerjang. Sebuah realisasi bahwa faktanya, hampir semua keinginan penting dalam hidup ini akhirnya tercapai. Dan andai ada yang luput dan tidak terwujud, mungkin itu terjadi sederhana karena kita tidak benar-benar menginginkannya, atau karena Tuhan tahu itu bukan yang terbaik. Bukankah takdir terbaik itu, adalah yang kita jalani saat ini?!.
Kesadaran ini membawa arus rasa syukur yang tak terhingga. Rasa syukur yang tidak lagi egois, yang kini bermuara pada satu desakan kuat untuk turning backāsebuah panggilan jiwa untuk pulang, berbalik arah, lalu mulai fokus untuk berbagi dan memberi kepada sesama.
Sejatinya, pertambahan umur mungkin meredupkan kekuatan fisik, namun ia menyalakan lentera kesadaran diri yang jauh lebih terang. Kita tidak tumbuh membesar ke luar layaknya pohon, melainkan merekah dalam taman kebijaksanaan.
(Padangan, 6 November 2026).