✅Mengembalikan Etika Milenial di Tengah Sektor Pariwisata Kecamatan Padangan Melalui Filosofi "Ajining Diri Saka Lathi, Ajining Raga Saka Busana✅
Perkembangan teknologi di era milenial membawa perubahan besar dalam cara masyarakat berinteraksi, tidak terkecuali di wilayah Kecamatan Padangan. Sebagai pusat ekonomi Bojonegoro bagian barat yang berbatasan langsung dengan Jawa Tengah, wilayah ini kian berkembang pesat. Terlebih lagi, saat ini Kecamatan Padangan masuk dalam pengembangan strategis wisata kota tua, pesona waduk, dan wisata religi. Transformasi ini menjadikan Padangan sebagai magnet kunjungan pelancong, yang secara langsung mempercepat pembauran budaya luar dengan nilai-masing lokal setempat.Namun, di balik geliat positif sektor pariwisata tersebut, arus modernisasi juga membawa dampak negatif yang cukup memprihatinkan terhadap moralitas generasi muda. Interaksi komunikasi antar-milenial di media sosial maupun dunia nyata cenderung mengalami penurunan kualitas etika. Tata kesopanan dalam bertutur kata kerap terabaikan demi tren digital. Tidak hanya itu, paparan budaya luar yang dibawa oleh arus pariwisata turut menggerus nilai-nilai etis dan estetika pemuda di Kecamatan Padangan dalam cara berbusana.Melihat fenomena lokal tersebut, sebuah penelitian kualitatif deskriptif dengan pendekatan kajian pustaka mencoba mencari solusi konkret. Melalui pengumpulan data dari berbagai literatur seperti buku, jurnal, dan naskah artikel, ditemukan sebuah jalan keluar budaya yang sangat kuat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa cara terbaik untuk membentengi moralitas generasi muda di tengah masifnya pengembangan pariwisata ini adalah dengan mengonstruksi kembali filosofi Jawa dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Kecamatan Padangan, khususnya dalam hal etika berkomunikasi dan berbusana.Penelitian ini memiliki arti penting untuk menyoroti dan memahami aspek epistemologi, ontologi, dan aksiologi dari kearifan lokal. Bingkai filosofi Jawa dipandang masih sangat relevan untuk ditularkan kepada generasi milenial Padangan saat ini agar tidak kehilangan jati diri aslinya. Inti dari nilai moral yang diangkat adalah sebuah pepatah bijak: "Ajining diri saka lathi, ajining raga saka busana".Secara harfiah, falsafah ini memiliki makna yang sangat mendalam:Ajining diri saka lathi: Harga diri dan kehormatan seorang pemuda ditentukan oleh ucapan, tutur kata, dan lidahnya. Di era digital, hal ini mencakup etika berkomunikasi saat menyambut wisatawan maupun berjejaring di media sosial.Ajining raga saka busana: Kehormatan dan nilai fisik seseorang tercermin dari cara ia berbusana. Pemuda diharapkan mampu menjaga kesopanan berpakaian yang selaras dengan nilai-nilai lokal, meskipun sedang berada di kawasan wisata modern.Tujuan utama dari penulisan ini adalah membangun kembali karakter generasi muda di wilayah perbatasan ini agar mampu menjadi tuan rumah yang ramah dan beradab. Ketika wisatawan datang menikmati eksotisme arsitektur kolonial di Padangan Heritage (Kota Tua), keindahan alam di Waduk Sonorejo, atau melakukan ziarah ke situs Makam Minak Anggrung, mereka disambut oleh generasi milenial yang berkarakter luhur. Dengan mengonstruksikan filosofi Jawa tersebut, kita dapat menanamkan kembali nilai etis yang mulai pudar di lingkungan keluarga maupun komunitas di Kecamatan Padangan. Harapannya, generasi muda setempat dapat berjalan beriringan dengan kemajuan pariwisata tanpa kehilangan tata krama yang bermakna baik serta sopan di era modern ini.
Artikel disusun oleh;
Mas Karji Proglap
19/07/26🏠